#

INFO BENCANA TERKINI

Info Gunungapi Bromo Meletus, Kab. Probolinggo-Prop. Jatim , 26-Desember-10 17:30:00 WIB, Warga lereng Bromo dari 12 Desa sekitar yang bermukim di sekitar Gunung Bromo terpapar debu vulkanik pekat, 106 rumah roboh, 2 sekolah roboh, Pertanian rusak, suplai air bersih terhambatAnda Peduli Bencana, Salurkan Bantuan dan Dana kirim ke Rek.BCA - 0813004392 Mari Peduli dan Dukung Kami - Terima kasih

Gunungapi Merapi Meletus


View Letusan Merapi in a larger map

Tahap Penanggulangan Bencana

;
Tampilkan postingan dengan label Gunungapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunungapi. Tampilkan semua postingan

05 Desember 2009

Gunungapi Dukono Meletus Lagi

Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara (Malut) kembali menyemburkan abu, menyusul adanya peningkatan aktivitas vulkanik di gunung api setinggi 1.500 meter itu.

"Abu dari letusan Gunung dokuno menyebar sampai ke Tobelo (ibu kota Kabupaten Halut). Ini terjadi sejak akhir pekan lalu," kata salah seorang warga Tobelo, Aswan ketika di hubungi dari Ternate, Rabu.

Gunung tersebut sudah berulang kali menyemburkan abu sejak statusnya di naikkan dari normal ke waspada beberapa bulan silang, bahkan tidak jarang terlihat mengeluarkan pijaran api.

Menurut Aswar, kendati Gunung Dukono kembali menyemburkan abu, warga Tobelo, termasuk warga yang tinggal di sekitar kaki gunung tersebut tidak panik, karena sudah terbiasa mengalami hal seperti itu.

Apalagi Pemkab Halut dan pihak Pemantau Gunung Api Dukono sejauh ini belum mengeluarkan pemberitahuan kepada masyarakat kalau Gunung Dukono akan segera meletus terkait adanya semburan abu yang terjadi sejak akhir pekan lalu itu.

"Kami hanya mengkhawatirkan kalau abu yang disemburkan Gunung Dukono tersebut sampai mengakibatkan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) pada masyarakat setempat," kata Aswan.

Dari Pemkab Halut diperoleh keterangan bahwa Pemkab Halut telah mendapat laporan dari petugas Pemantau Gunung Api Dukono bahwa gunung tersebut masih tetap aman. Meski terlihat menyemburkan abu.

Munculnya semburan abu dari gunung tersebut diakibatkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik di gunung itu, tapi bukan sebagai pertanda bahwa gunung itu akan segera meletus, untuk itu masyrakat setempat dihimbau untuk tetap tenang.

Warga di sekitar kaki gunung tersebut juga tetap bisa melaksanakan aktivitas di sekitar lereng gunung seperti biasa, Namun dilarang melakukan pendakian di gunung itu, apalagi sampai mendekati kawahnya.

Gunung Dukono merupakan salah satu dari lima gunung api yang masih aktif di Malut. Dua gunung api lainnya, yakni Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat dan Gunung Gamalama di Kota Ternate juga dalam status waspada sejak beberapa bulan silam. Sumber : Antara News

06 November 2009

Gunungapi Karangetang Semburkan Lava Pijar

Sitaro: Aktivitas Gunung Karangetang di Sulawesi Utara meningkat. Jumat (6/11) dini hari, gunung yang terletak di Kabupaten Sitaro ini mengeluarkan lava pijar mencapai ketinggian lima meter. Semburan berlangsung hingga pagi tadi.

Warga setempat mengatakan, semburan lava pijar kali ini lebih besar dibanding yang terjadi Maret silam. Meski demikian, warga di sekitarnya tidak mau mengungsi. Namun, Pemerintah Kabupaten Sitaro telah mendirikan posko dan menyediakan kendaraan untuk mengevakuasi warga yang tinggal di lereng gunung.

Gunung Karangetang adalah salah satu gunung api yang paling aktif di Indonesia. Selengkapnya simak video berita ini. Sumber : SCTV

29 September 2009

Aktivitas Gunung Dieng Meningkat

Dengan meningkatnya aktivitas Gunungapi Dieng, Tim PVMBG Bandung, hingga saat ini terus memantau aktivitas vulkanik Gunung Dieng. Petugas juga mengambil sampel air di Kawah Sileri untuk diteliti.

Tim pemantau menilai, erupsi freatik yang terjadi di Kawah Sileri Gunung Dieng, tidak berbahaya bagi masyarakat di sekitar pusat erupsi. Namun pemantauan akan dilakukan secara intensif guna mengevaluasi kegiatan vulkanik Gunung Dieng.

Sementara itu berdasarkan pemantauan kegempaan dan visual di Pos Pengamatan Dieng, aktivitas Gunung Dieng sejauh ini masih normal. Meski demikian, masyarakat dihimbau tidak mendekat ke lokasi kawah, untuk mengantisipasi ancaman gas berbahaya.

Kawah Sileri yang terletak di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, meletus Ahad dini hari kemarin. Letusan tersebut disertai semburan lumpur, setinggi lebih dari 100 meter dan mencapai radius 200 hingga lebih dari 400 meter.

Akibat semburan lumpur kawah ini sejumlah bangunan gardu pandang yang berada di sekitar kawah hancur. Sejumlah pohon juga hangus. Sumber : antara

20 Mei 2009

Natural Early Warning Gunungapi Slamet

Menjelang letusan Gunungapi Slamet. Dengan status Siaga (Level III) gunungapi yang terletak di wilayah empat kabupaten di Jawa Tengah itu mulai menunjukkan peningkatan aktivitasnya. Terdengar dentuman dan suara gemuruh dari puncak gunung yang semakin meningkat. Nampak tanah retak-retak dibagian lereng gunungapi Slamet. Bahkan dalam lima hari terakhir terlihat babi hutan turun dari habitatnya di lereng gunung ke ladang-ladang penduduk.Turunnya hewan dari atas tersebut merupakan peringatan dini dari alam (natural early warning), biasanya akan diikuti oleh monyet, ayam hutan dan yang terakhir ular berbisa ketika mendekati waktu letusan.
Warga Binangun Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga, Amin Haryanto (37), mengaku hewan yang mulai terlihat turun ke ladang-ladang penduduk di kaki Gunung Slamet, adalah babi hutan. ''Hewan ini sebelumnya tidak pernah sampai turun gunung merusak ladang-ladang penduduk. Namun sekarang ini, cukup banyak babi hutan terlihat penduduk sedang berkeliaran. Kemungkinan hewan ini turun gunung akibat aktifitas Gunung Slamet yang makin meningkat,'' katanya, Ahad (17/5).
Perkiraan penduduk bahwa hewan-hewan tersebut ketakutan akibat aktifitas Gunung Slamet, didasarkan suara gemuruh yang terdengar dari puncak gunung. Tarno (27), warga lainnya, mengaku sejak lima hari terakhir ini, suara gemuruh dari puncak Slamet ini memang terdengar lebih sering dan keras. ''Kalau malam hari dan cuaca sedang cerah, suara gemuruh dari puncak gunung tersebut sering disertai dengan lontaran api yang terlihat jelas dari desa kami,'' ujarnya.
Terkait dengan aktivitas tersebut, warga Binangun kini menggiatkan ronda. Bukan hanya ronda malam hari di wilayah pemukiman mereka, tapi juga menggilir kegiatan ronda di ladang-ladang pertanian mereka pada siang hari. Ronda malam dimaksudkan untuk mengantisipasi kemungkinan bencana yang timbul dari Gunung Slamet, sedangkan ronda di ladang untuk mengusir babi hutan yang bisa menghabiskan tanaman pertanian mereka.
Peningkatan aktifitas Gunung Slamet, juga diakui Kades Serang Kecamatan Karangreja, Sugito. Bahkan pada Sabtu (16/5) dinihari, warga di desanya sempat panik karena suara dentuman yang cukup keras terdengar berulang kali dan langit terlihat sangat gelap. ''Baru saat menjelang fajar, warga bisa kembali tenang karena suara dentuman sudah tak terdengar terlalu keras,'' jelasnya.
Suara gemuruh yang berasal dari puncak gunung terbesar di Pulau Jawa ini, juga terdengar oleh warga di beberapa desa Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Padahal, wilayah desa ini sebenarnya cukup jauh dari puncak gunung. Warga Desa Gandatapa Kecamatan Sumbang juga sempat merasa panik karena suara gemuruh terdengat warga desa ini cukup keras.
''Suara gemuruh ini, sebenarnya sudah terdengar warga desa kami sejak empat hari lalu. Namun suara yang amat keras, kami dengar pada Sabtu (16/5) dinihari. Saat itu warga sempat panik dan keluar rumah karena khawatir terjadi apa-apa,'' katanya.
Belajar dari pengalaman masyarakat yang tinggal di lereng Gunungapi Kelud di Jawa Timur. Fenomena dentuman juga pernah terjadi saat letusan tahun 1951, 1966 dan 1990. Sumber air yang bernama “Mbelik Jeding” di sebuah desa di Kab. Blitar akan mengalami dentuman yang terdengar dari jarak kiloan meter. Kemudian sekitar 15-20 hari akan disusul dengan letusan gunungapi Kelud. Indikator ini boleh jadi merupakan bentuk peringatan dini alam (natural early warning) dari gejala peningkatan vulkanis di seputar dinding gunungapi.
Wiwit, salah seorang warga di Kabupaten Brebes, Selasa (19/5), mengatakan, warga semakin mengkhawatirkan peningkatan aktivitas Gunung Slamet. Selain mengeluarkan semburan asap dan suara dentuman, lanjutnya, warga juga merasakan adanya gempa kecil.
“Gempa kecil yang terjadi Senin (18/5) memang tidak sampai menimbulkan korban jiwa dan kerusakan. Namun, dengan adanya kejadian alam ini, kami khawatirkan meningkatnya aktivitas Gunung Slamet,” katanya.
“Secara persis kami belum bisa mengetahui kondisi perkembangan aktivitas Gunung Slamet. Namun kami akan melakukan pantauan langsung perkembangan gunung itu di Pos Pengamatan Gunung Slamet Gambuhan,” kata Asisten I Kabupaten Brebes, Supriyono.
Koordinator Tim SAR Kantor Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Brebes, Adhe Dhanie Raharjo, mengakui adanya gempa kecil di Kecamatan Tanjung dan Losari. “Kami memang mendapat laporan, tapi kejadian itu tidak menimbulkan kerusakan dan korban jiwa. Kami menduga gempa terjadi akibat peningkatan aktivitas Gunung Slamet,” katanya.
Berdasarkan laporan Posko pemantauan aktivitas Gunung Slamet di Desa Dawuhan, Kecamatan Sirampog, dan Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, dalam dua hari terakhir terjadi gempa di puncak Gunung Slamet. Gempa kecil itu terjadi pada 16 Mei, sebanyak 1.068 kali dengan amplitudo 20-30 mm dan lama gempa antara 7,5- 335 detik.
Sehari kemudian, 17 Mei 2009 pukul 12.00 WIB, terjadi gempa tremor secara terus menerus di puncak Gunung Slamet. “Sore harinya, puncak gunung diguyur hujan lebat dan terjadi tiga kali letupan asap dengan ketinggian 50 meter,” kata Adhe Dhanie Raharjo.
Meski terjadi peningkatan aktivitas, tetapi status Gunung Slamet tidak ada perubahan, yaitu masih siaga. “Namun, untuk mengantisipasi terjadinya hal terburuk akibat meningkatnya aktivitas Gunung Slamet, tim SAR tetap menyiagakan 20 personel di puncak gunung itu. Mereka juga diminta meningkatkan kesiagaan dan melakukan pendekatan kepada masyarakat agar tetap tenang dan waspada,” jelas Adhe Dhanie Raharjo.
Sementara berdasarkan data yang diperoleh dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), hingga Ahad (17/5), status aktivitas vulkanik Gunung Slamet masih pada level Siaga. Meski sejak beberapa hari terakhir menunjukkan peningkatan aktivitas, namun lembaga yang mengawasi aktivitas gunung api di Tanah Air ini belum meningkatkan status Gunung Slamet pada level 'Awas' sebagai level bahaya tertinggi. Sumber : Surya

18 Mei 2009

Tips Menghadapi Letusan Gunungapi

Kawasan Indonesia merupakan wilayah yang berada di jalur sabuk api (ring of fire) terpanjang dan teraktif di dunia sehingga paling banyak memiliki gunungapi di dunia. Tidak kurang dari 500 buah gunungapi yang tersebar di Indonesia dan 129 diantaranya merupakan gunungapi aktif, sekitar 70 dari gunungapi aktif Type A sehingga sering mengalami letusan.
Letusan Gunungapi adalah merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah "erupsi". Hampir semua kegiatan Gunungapi berkaitan dengan zona kegempaan aktif sebab berhubungan dengan batas lempeng. Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui rekahanrekahan mendekati permukaan bumi.
Setiap Gunungapi memiliki karakteristik tersendiri jika ditinjau dari jenis muntahan atau produk yang dihasilkannya. Akan tetapi apapun jenis produk tersebut kegiatan letusan Gunungapi tetap membawa bencana bagi kehidupan. Bahaya letusan Gunungapi memiliki resiko merusak dan mematikan.

Bahaya Letusan Gunungapi di bagi menjadi dua berdasarkan waktu kejadiannya yaitu Bahaya Utama (Primer) dan Bahaya Ikutan (Sekunder).

Bahaya Utama (Primer) :
  • Awan Panas, merupakan campuran material letusan antara gas dan bebatuan (segala ukuran) terdorong ke bawah akibat densitas yang tinggi dan merupakan adonan yang jenuh menggulung secara turbulensi bagaikan gunung awan yang menyusuri lereng. Selain suhunya sangat tinggi, antara 300 - 700º Celcius, kecepatan lumpurnyapun sangat tinggi, > 70 km/jam (tergantung kemiringan lereng).
  • Lontaran Material (pijar) terjadi ketika letusan (magmatik) berlangsung, beberapa gunungapi yang memiliki kawah biasanya diawali dengan letusan uap air (freatik) terlebih dahulu sebelum letusan utama. Jauh lontarannya sangat tergantung dari besarnya energi letusan, bisa mencapai ratusan meter jauhnya. Selain suhunya tinggi (>200ºC), ukuran materialnya pun besar dengan diameter > 10 cm sehingga mampu membakar sekaligus melukai, bahkan mematikan mahluk hidup. Lazim juga disebut sebagai "bom vulkanik".
  • Hujan Abu lebat, terjadi ketika letusan Gunungapi sedang berlangsung. Material yang berukuran halus (abu dan pasir halus) yang diterbangkan angin dan jatuh sebagai hujan abu dan arahnya tergantung dari arah angin. Karena ukurannya yang halus, material ini akan sangat berbahaya bagi pernafasan, mata, pencemaran air tanah, pengrusakan tumbuh-tumbuhan dan mengandung unsur-unsur kimia yang bersifat asam sehingga mampu mengakibatkan korosi terhadap seng dan mesin pesawat.
  • Lava, merupakan magma yang mencapai permukaan, sifatnya liquid (cairan kental dan bersuhu tinggi, antara 700 – 1.200ºC. Karena cair, maka lava umumnya mengalir mengikuti lereng dan membakar apa saja yang dilaluinya. Bila lava sudah dingin, maka wujudnya menjadi batu (batuan beku) dan daerah yang dilaluinya akan menjadi ladang batu.
  • Gas Racun, muncul tidak selalu didahului oleh letusan Gunungapi sebab gas ini dapat keluar melalui rongga-rongga ataupun rekahan-rekahan yang terdapat di daerah Gunungapi. Gas utama yang biasanya muncul adalah CO2, H2S, HCl, SO2, dan CO. Yang kerap menyebabkan kematian adalah gas CO2. Beberapa gunung yang memiliki karakteristik letusan gas beracun adalah Gunungapi Tangkuban Perahu, Gunungapi Dieng, Gunung Ciremai, dan Gunungapi Papandayan.
  • Tsunami, umumnya dapat terjadi pada Gunungapi pulau, dimana saat letusan terjadi material-material akan memberikan energi yang besar untuk mendorong air laut ke arah pantai sehingga terjadi gelombang tsunami. Makin besar volume material letusan makin besar gelombang yang terangkat ke darat. Sebagai contoh kasus adalah letusan Gunungapi Krakatau tahun 1883.

Bahaya Ikutan (Sekunder) :
Bahaya ikutan letusan gunungapi adalah bahaya yang terjadi setelah proses letusan berlangsung. Bila suatu gunungapi meletus akan terjadi penumpukan material dalam berbagai ukuran di puncak dan lereng bagian atas. Pada saat musim hujan tiba, sebagian material tersebut akan terbawa oleh air hujan dan tercipta adonan lumpur turun ke lembah sebagai banjir bebatuan, banjir tersebut disebut lahar dingin.

Kesiapsiagaan Menghadapi Letusan Gunungapi :
  • Mengenali daerah setempat dalam menentukan jalur evakuasi sekaligus tempat yang aman untuk titik kumpul, titik evakuasi dan pengungsian
  • Membuat perencanaan penanganan bencana.
  • Mempersiapkan pengungsian jika diperlukan.
  • Mempersiapkan kebutuhan dasar
Jika Terjadi Letusan Gunungapi :
  • Hindari Kawasan Rawan Bencana III, II dan I (KRB III, II, I) biasanya dari kawah KRB III berada 2,5 km, KRB II berada 5 km dan KRB I berada 10 km juga seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.
  • Ditempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Persiapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan.
  • Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya.
  • Jangan memakai lensa kontak.
  • Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
  • Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan.

Setelah Terjadi Letusan Gunungapi :
  • Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
  • Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan. Biasanya atap dibuat lebih curam dengan kemiringan lebih dari 45 derajat.
  • Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin

MITIGASI BENCANA GUNUNGAPI
Upaya memperkecil jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda akibat letusan gunung berapi, tindakan yang perlu dilakukan :
  • Pemantauan, aktivitas Gunungapi dipantau selama 24 jam menggunakan alat pencatat gempa (seismograf). Data harian hasil pemantauan dilaporkan ke kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung dengan menggunakan radio komunikasi SSB. Petugas pos pengamatan Gunung berapi menyampaikan laporan bulanan ke pemda setempat.
  • Tanggap Darurat, tindakan yang dilakukan oleh PVMBG ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung berapi, antara lain mengevaluasi laporan dan data, membentuk Tim Tanggap Darurat, mengirimkan tim ke lokasi, melakukan pemeriksaan secara terpadu.
  • Pemetaan, Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung berapi dapat menjelaskan jenis dan sifat bahaya gunung berapi, daerah rawan bencana, arah penyelamatan diri, lokasi pengungsian, dan pos penanggulangan bencana.
  • Penyelidikan gunung berapi menggunakan metoda Geologi, Geofisika, dan Geokimia. Hasil penyelidikan ditampilkan dalam bentuk buku, peta dan dokumen lainya.
  • Sosialisasi, petugas melakukan sosialisasi kepada Pemerintah Kab/Kota serta masyarakat terutama yang tinggal di sekitar gunung berapi. Bentuk sosialisasi dapat berupa pengiriman informasi kepada Pemkab/Pemkot dan penyuluhan langsung kepada masyarakat.
Sumber : Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya di Indonesia.(PVMBG, BNPB).

11 Mei 2009

Anak Krakatau Status Siaga (Level III)

Aktivitas gunung berapi Anak Krakatau di Selat Sunda dalam empat hari terakhir ini terus meningkat. Karena itulah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mulai Sabtu (27/10) meningkatkan status Gunung Anak Krakatau dari waspada (Level II) menjadi siaga (Level III).
Berdasarkan pengamatan di pos pengawas di Anyer, Banten, 23 Oktober silam, sebuah kawah baru terbentuk di bagian selatan badan Gunung Anak Krakatau. Kawah itu berjarak 300 meter dari kawah lama. Lubang kawah baru itu kini semakin meluas ditandai dengan meningkatnya jumlah letusan di kawah ini.
Hingga siang kemarin, jumlah letusan di Anak Krakatau tercatat 750 kali dan tiga kali gempa tremor. Padahal biasanya jumlah letusan tidak pernah melebihi 400 kali setiap bulannya.
Letusan di Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan pada Minggu yakni sebanyak 261 kali, sedangkan dua hari lalu hanya 81 kali, sehingga statusnya masih siaga.

"Namun gempa vulkanik dangkal mengalami penurunan yakni dari 97 kali pada dua hari lalu, hari ini tinggal 36 kali," kata Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancoran, Kalianda, Lampung Selatan, Andi Suwardi, Minggu (10/5).
Hari ini, tremor sebanyak 130 kali meningkat dibandingkan dua hari lalu, yang hanya 15 kali, sedangkan hembusan sama sebanyak 122 kali.

Andi mengatakan, walau terjadi penurunan jumlah gempa, pihaknya masih tetap siaga mengingat terjadi peningkatan jumlah letusan dibanding dua hari yang lalu.
Karena itu, tim pemantau harus tetap siaga serta saling berkoordinasi dengan tim lain yang ada di Banten, untuk saling memberikan informasi.

Saat ini kondisi Gunung Anak Krakatau masih diselimuti kabut tebal, sehingga pihaknya merasa sedikit kesulitan dalam mendeteksi secara visual.
"Saya berharap dengan kondisi seperti ini, walaupun intensitas gempa turun masyarakat yang akan menikmati objek wisata ditunda dahulu. Karena ada peningkatan letusan," katanya.
Andi juga mengimbau, masyarakat diharapkan bisa mengerti dengan kondisi ini. Bukan melarang orang yang akan berwisata, karena menurutnya bila masih tetap untuk mendekati gunung anak krakatau, pihaknya mengkhawatirkan keselamatan.

"Saya berterima kasih kepada media massa yang meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau, dengan begitu masyarakat menjadi tahu tentang kondisi gunung tersebut," katanya.

Rekomendasi :
Sehubungan dengan status G. Anak Krakatau yang berada pada status Siaga (Level III) maka kami rekomendasikan :
  1. Masyarakat diminta tidak mendekati pulau gunungapi Anak Krakatau tersebut dalam radius 2 km dari kawah G. Anak Krakatau.
  2. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang letusan G. Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami.
  3. Masyarakat nelayan dapat melakukan aktivitas di sekitar G. Anak Krakatau.
  4. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan melakukan kegiatan seperti biasa serta senantiasa mengikuti arahan Satlak PB dan Satkorlak PB setempat.
  5. Untuk informasi dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (022) 7272606 di Bandung (Propinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan G. Anak Krakatau (0254) 651449 di Pasauran (Propinsi Banten).Sumber : Liputan 6, Kompas, PVMBG

04 Mei 2009

Gunungapi Rinjani Status Waspada (Level II)

Gunungapi Rinjani Statusnya Naik Waspada, menyusul Semeru, Kerinci, Anak Krakatau dan Slamet

Selong, Ancaman bahaya letusan gunungapi di Indonesia meningkat, diawali Gunungapi Semeru di Jatim , kemudian Gunungapi Kerinci di Sumbar dan Gunungapi Slamet di Jateng. Hal ini terlihat dari adanya Anak gunung Rinjani yang disebut Barujari menunjukkan peningkatan aktifitas. Selama 2 hari terakhir anak gunung itu mengeluarkan letupan setinggi 1.000 meter.

Dengan kondisi tersebut maka pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi PVMBG) menaikkan statusnya dari Normal Aktif (Level I) menjadi Waspada (Level II). Dengan demikian ancaman bahaya gunungapi tersebut belum mengkhawatirkan. Dalam mengatasi kemungkinan, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menutup akses kegiatan pendakian. Jalur-jalur pendakian ke gunung tersebut untuk sementara tidak boleh dilalui dikhawatirkan terpapar gas beracun. “Gunungapi Rinjani status Waspada maka sementara itu pendakian kami tutup,” ujar Kepala Balai TNGR Arief Tongkagi. Arief menjelaskan bahwa telah terjadi letuapan-letuapan kecil yang beberapa kali terjadi sejak jumat (1/5) lalu. Untuk memastikan Tim Vulkanologi sudah mengamati aktifitasnya dari dekat untuk melihat kepundan. Indikasi peningkatan aktifitas gunung itu sebenarnya sudah mulai terasakan sejak akhir maret 2009. Salah satu diantaranya adalah adanya peningkatan suhu airdi Danau Segara Anak. Warna belerang sehingga cenderung kuning pekat. Warga di sekitar gunung, terutama yang berada di sisi utara juga merasakan gejala-gejala yang tidak lumrah. Misalnya udara pada malam mendadak dingin, hembusan angin juga kencang berupa angin putting beliung skala kecil terutama menjelang dinihari. Ini gejala alam yang aneh. Sejumlah warga Desa Tanjung juga merasakan bakal ada kejadian malam itu. Tetapi letupan anak gunung Barujari tidak diiringi gejala gempa vulkanik atau gejala alam lainnya. Kades Senaru Raden Akri Buana menyampaikan letusan kecil itu gunung Barujari itu tidak berbahaya. Kendati Gunungapi Rinjani ber status Waspada justru sejumlah pendaki ingin melihat aktifitas Gunung Barujari dari dekat. Sumber : Jawa Pos

25 April 2009

G. Slamet Siaga, Letusan 800 Meter

Letupan material panas disertai asap Gunung Slamet yang berada di perbatasan Kabupaten Pemalang dan Purwokerto dalam beberapa hari terakhir ini mencapai jarak sejauh 800 meter. Karena itu, penduduk diimbau terus waspada. Petugas Pos Pengamatan Gunung Slamet Gambuhan, Sukedi, di Pemalang, Sabtu (25/4), mengatakan, saat ini aktivitas Gunung Slamet terus meningkat dan memasuki status Siaga (Level III).
"Status siaga III ini telah ditetapkan pada 23 April 2009. Hingga beberapa hari terakhir ini, ketinggian letupan minimal mencapai 100 meter dan maksimal 800 meter," katanya.
Meningkatnya aktivitas gunung tertinggi di Jawa Tengah ini terus menjadi pusat perhatian pos pengamatan gunung berapi Gambuhan di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Letupan asap berwarna putih yang disertai bara dari kawah Gunung Slamet mampu mencapai 30 kali letupan dengan interval waktu 15 menit hingga 20 menit. Ia mengatakan, meski saat ini aktivitas Gunung Slamet tidak menimbulkan semburan yang berbahaya, pihak pos pengamatan gunung berapi mengimbau kepada masyarakat yang berada di sekitar gunung itu agar waspada. "Kami imbau warga terus meningkatkan kewaspadaannya terhadap aktivitas Gunung Slamet. Namun, kami minta mereka juga bisa bersikap tenang," katanya
Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Tegal Bambang Puji Waluyo mengatakan, peningkatan status Gunung Slamet dari waspada ke siaga telah diterima dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Jumat (24/4). "Namun, untuk menjaga sesuatu hal yang kemungkinan terjadi, kami telah mengimbau kepada warga untuk menyiapkan masker. Namun hingga saat ini, pengungsian atau pun evakuasi belum perlu dilakukan," katanya. Sumber : Kompas. com

Gunungapi Slamet, Status Waspada

Intensitas gempa permukaan di Gunung Slamet, Jawa Tengah, masih tinggi, mencapai 163 kali selama kurun waktu 2 4 jam antara Rabu hingga Kamis (23/4) sekitar pukul 06.00. Selain itu, alat pada Pos Pe ngamatan Gunung Api Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, juga masih merekam adanya gempa tremor vulkanik, dengan amplitudo antara 0,5 hingga 2 milimeter. Hingga saat ini, status gunung tersebut masih dinyatakan waspada.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Sukedi, Kamis (23/4), mengatakan, meskipun masih tinggi, intensitas gempa permukaan mulai menurun bila dibandingkan satu hari sebelumnya, yang mencapai 203 kali.Suhu kawah dan suhu mata air panas di kawasan obyek wisata Guci juga relatif masih sama dengan hari sebelumnya. Hanya saja, muncul asap putih kehitam-hitaman, dengan ketinggian mencapai 800 meter. Padahal sebelumnya, asap yang muncul hanya berupa asap putih tebal. Munculnya asap kehitam-hitamaan, diperkirakan karena pengaruh kenaikan tekanan magma. "Saat ini kami masih terus memantau perkembangan setiap hari," ujarnya.
Bau belerang
Sementara itu, masyarakat pada empat desa di Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, mulai mencium bau belerang di wilayah mereka. Keempat desa tersebut meliputi Desa Igir Klanceng, Dawuhan, Sridadi, dan Batur Sari. Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, Perlindungan Masyarakat Kabupaten Brebes, Rais Khana mengatakan, saat ini pihaknya menetapkan status siaga satu untuk dua kecamatan yang berada di kaki Gunung Slamet, yaitu Kecamatan Sirampog dan Paguyangan. Selain karena kedua kecamatan tersebut berada di kaki Gunung Slamet, penetapan status siaga satu karena munculnya bau belerang pada empat desa tersebut. "Kami menyiapkan camat, satuan pelaksanaan penanggulangan bencana untuk piket selama 24 jam," katanya. Sumber : Kompas.com

23 April 2009

Kerinci Mereda, Hujan Es dan Puting Beliung Datang

Aktivitas di Gunung Kerinci di Prov. Jambi mereda. Namun bukan berarti rasa was-was warga sekitar telah hilang. Ancaman bencana baru muncul yaitu Hujan es dan anggin puting beliung memorakporandakan ratusan urmah dan lahan warga di Kec. Kayu Aro dan Gunung Tujuh Kab. Kerinci. Kedua bencana itu datang bersama sekitar pukul 12.00 kemarin. Selam sekitar satu jam warga di kedua kecamatan tersebut ketakutan akibat deraan puting beliung dan guyuran hujan es.
Serangan terparah terjadi di Ds. Sungai Rumpun Kec. Gunung Tujuh dan Ds. Bendung Air Kec. Kayu Aro. Di Sungai Rumpun tercatat 136 yunit rumah rusak parah . Adapun di Bendung Air tercatat 25 unit rumah rusak. Burhan warga RT 04 Sungai Rumpun mengatakan bahwa satu-satunya rumah tempat mereka berteduh sudah rusak akibat ditimpa hujan es serta angin puting beliung. Anak dan istrinya terpaksa diungsikan ke rumh keluarganya di RT 06 lantaran atap rumahnya bolong. Kemana lagi kita harus berteduh, sementara rumah satu-satunya sudah bolong diterpa hujan es dan puting beliung keluarga Burhan sambil meneteskan air matanya. Dia dengan melihat dengan mata kepala sendiri butiran-butiran es menerpa atap rumahnya bersamaan dengan derunya anggin puting beliung yang merusak rumah mereka. Saya sedang istirahat ketika hujan lebat datang bercampur es disusul dengan anggin puting beliung. Sumber : Jawa Pos
 
© Copyright by Siaga Bencana  |  Template by Blogspot tutorial